Ikhwan Kajian yang selalu mendapat keberkahan. Informasi atau opini terkadang membuat
kita berdetak kagum dan bangga dengan info tersebut. Dan tidak sadar pula kita kadang selalu terpengaruh akan kata dan bujuk rayuannya.Namuan dengan adanya Dulu Jokowi Menyebutnya Lambang Kemajuan Kota, Kini Starbucks Diboikot kita bisa mencari celah kebenaranya tanpa adanya sifat menyalahkannya. Namun hanya mencari letak dasar kebenaranya itu sendiri.
Dulu Jokowi Menyebutnya Lambang Kemajuan Kota, Kini Starbucks Diboikot mengajak kita untuk berfikir untuk menambah khasanah keilmuan kita.Dengan adanya kajian tentangnya kita mengerti yang benar dan yang salah.Jadikan memontum ini untuk menguatjan kita.Dan pastikan pula kita selalu mawas diri dalam menghadapi setiap problematik kehidupan kita.Dan selu berhati hati dalam menyikapi segala sesuatunya.
Sekitar tujuh bulan sebelum ramai ajakan boikot Starbucks, Presiden Jokowi melontarkan pujian kepada gerai kopi tersebut. Menurutnya, sebuah kota bisa disebut berkelas internasional jika ada kedai Starbucks.
Hal itu disampaikan Jokowi dalam sambutannya di acara Pameran World Franchise Summit Indonesia 2016. Orang nomor satu di Indonesia itu menyebutkan, seperti gerai kopi Starbucks yang sudah menguasai kota-kota di Indonesia.
"Jaman sekarang hadir tidaknya suatu waralaba sudah menjadi lambang kemajuan tingkat kota itu, apalagi untuk generasi muda, anak muda biasa kalau jalan ada Starbucks-nya tidak," kata Jokowi di JCC, Jakarta, Jumat (25/11/2016).
Jokowi melanjutkan, jika suatu kota sudah terdapat gerai starbucks coffee maka bisa dibilang kota tersebut memiliki citra kelas internasional. Namun, kata Jokowi, merambahnya waralaba asing di Indonesia tersebut menjadi potensi yang harus dimanfaatkan para pelaku usaha di Indonesia.
Starbucks kini justru sedang jadi sasaran boikot setelah Sang CEO CEO Howard Mark Schultz mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks, Schultz secara tegas mempersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan sejenis angkat kaki dari Starbucks. Tak tanggung-tanggung, ajakan boikot datang dari Muhammadiyah.
Ketua bidang ekonomi PP Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan sudah saatnya pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk mencabut ijin Starbucks di Indonesia. Karena Ideologi bisnis dan pandangan hidup yang Schultz kampanyekan jelas-jelas tidak sesuai dan sejalan dengan ideologi bangsa, yakni Pancasila.
"Kita sebagai bangsa, jelas-jelas tidak akan mau sikap dan karakter kita sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya rusak dan berantakan karena kehadiran mereka," tegas Anwar, Kamis, 29 Juni 2017.
Anwar juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mempertimbangkan langkah-langkah pemboikotan terhadap produk-produk Strabucks. Karena jika sikap dan pandangan hidup mereka tidak berubah, maka yang dipertaruhkan adalah jati diri Bangsa sendiri.
Anwar mengimbau masyarakat dan pemerintah dengan tegas melakukan langkah dan tindakan, demi menyelamatkan kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
"Kita tidak mau karena nila setitik rusak susu sebelanga," kata dia.
Judul :
Dulu Jokowi Menyebutnya Lambang Kemajuan Kota, Kini Starbucks Diboikot
Link :
Dulu Jokowi Menyebutnya Lambang Kemajuan Kota, Kini Starbucks Diboikot
Artikel terkait yang sama:
Dulu Jokowi Menyebutnya Lambang Kemajuan Kota, Kini Starbucks Diboikot
0 Response to "Dulu Jokowi Menyebutnya Lambang Kemajuan Kota, Kini Starbucks Diboikot"
Posting Komentar